SARKOFAGUS

MAHA SEMAYA KI MANTRI TUTUAN PRATISENTANA SIRA DALEM MANGORI

Salah satu peninggalan Ki Mantri Tutuan yang merupakan Pratisentana Sira Dalem Mangori adalah Sarfkofagus. Sarkofagus merupakan sebuah wadah atau tempat kubur dari batu berbentuk seperti lesung batu yang terdiri dari wadah dan tutup dengan bentuk dan ukuran yang sama. Fungsi dari sarkofagus itu sendiri adalah sebagai kuburan, peti mayat atau wadah kubur baik untuk sementara waktu ataupun tidak. Sarkofagus-sarkofagus pada umumnya dipahat dengan batu padas, kecuali ditempat-tempat yang tidak ada bahan tersebut.

Pada umumnya sarkofagus di Bali berisi benda-benda bekal kubur yang disertakan pada mayat. Sebagian besar barang-barang tersebut terdiri dari benda-benda perunggu, manik-manik, fragmen-fragmen barang tanah bakar, benda-benda perunggu terdiri dari gelang (kaki, tangan, telinga), kapak/tajak upacara, rantai spiral, mata kalung, periuk, dan pelindung jari. Penyertaan bekal kubur, baik berupa perhiasan, senjata, maupun periuk-periuk dengan mayat adalah gejala universal dan gejala ini telah ditemukan sejak zaman berburu tingkat sederhana. Kepercayaan akan kelangsungan hidup di alam baka menghendaki agar kepada orang yang meninggal dibawakan serta dalam kuburnya bekal untuk kelangsungan hidupnya. Jenis dan jumlah bekal kubur tergantung kepada kemampuan keluarganya. Hal ini dapat disaksikan pada sarkofagus, bekal kubur kadang-kadang hanya terdiri dari beberapa gelang perunggu dan periuk atau beberapa bekal kubur lainnya.

Pada zaman perundagian tidak semua mayat dikubur dalam sarkofagus. Khusus golongan-golongan terkemuka dalam masyarakat waktu itu dapat mengecap perlakuan istimewa ini, sebab pembuatan sarkofagus dan pengangkutan bahan-bahannya memerlukan tenaga yang tidak sedikit.

Penguburan dengan sarkofagus rupa-rupanya diselenggarakan dengan tata cara dengan upacara-upacara tertentu. Sikap terlipat beserta dengan bekal kubur dalam hubungan dengan adat penguburan sarkofagus ini, mengandung maksud memberi sikap kepada mayat seakan-akan si mati dalam keadaan siap untuk lahir kembali di dalam suatu kehidupan baru. Di bidang kesenian menunjukkan nilai seni tinggi dan menguasa tehnik pemahatan yang dimiliki oleh masyarakat pendukung kebudayaan pada saat itu yang menghasilkan hiasan tonjolan pahatan kedok muka pada sarkofagus.